Jumat, 19 September 2014

Syukurku Kepada-Mu
Serasa ingin menyatakan apa yang saya rasakan semuanya saat ini,kadang hidup terus bergulir lebih cepat bagai kincir angin yang tak pernah lelet untuk selalu berputar…saya merasakan kehangatan yang mendalam di tengah-tengah sahabat yang ada di sekitar saya, keinginanku selalu ingin merasakan hal yang serupa dengan saat ini, semoga ini menjadi flash back yang selalu mengingatkan saya dengan hari ini di masa yang akan dating… Saya percaya dengan hal-hal yang selalu diingatkan oleh Sang Maha Kuasa untuk selalu bersyukur dengan setiap kondisi yang ada, dengan demikian hidup ini terasa lebih indah dan tanpa beban.
Bisa dibayangkan kalau hari ini bisa terus berjaya dengan terus merasakan kebahagiaan hidup. Terus merasa ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya, Ya Rabbul’Izzati selalu engkau anugerahkan ni’mat ini kepada hamba-Mu ini, semoga semakin berjalannya waktu dan semakin bergulirnya zaman bisa terus menjadi hamba yang sunguh-sungguh taat dan tunduk serta bersyukur kepada-Mu. Di petang menjelang malam saat ini terlalu leluasa untuk bisa berlalu dengan angan-angan di dada yang tak pernah surut bagai ombak besar di lautan. Tidak kusangka cepatnya waktu berlalu bisa membuat saya tersadar akan kehidupan yang berjalan begitu singkayt bagaikan cahaya kilat dikala petir menjelang hujan tiba.

Ya Robbul’Izzati seraya bernaung di bawah kekuasaan-Mu ku selalu berlindung dari hari yang engkau pegang, tak kuasa lagi daku ini untuk menjadi kekal dalam pendirian dan tak pernah berpikir juga untuk menjadi yang terhebat tanpa kuasa-Mu yang Maha Agung. Frustasi hidup selalu menimpa setiap hamba-Mu di dunia ini karena begitu sulitnya perjuangan hidup ini bagaikan pemahat batu yang bertarung melawan kerasnya benda mati ciptaan-Mu. Kalau saya intip masa depan terkadang tidak bisa diteropong bagaimanakah yang akan terjadi, jejak langkah kakiku selalu ingin berhenti tanpa bisa bergerak lagi, tapi saya yakin selalu ada hal yang lebih berarti dengan setiap perjuanganku, untuk itu saya selalu menunggu hal itu dalam hidup ini yang tak pernah pudar karena saya yakin “PASTI ADA KATA INDAH PADA WAKTUNYA”.

Kamis, 18 September 2014

Tak Karuan, Tak Ceria, Sia-sia
Helai nafas ini terasa pengap nan terengah-engah ingin kembali mendapatkan kesegaran menghirup udara di alam bebas. Terkadang ku membenci kemelutan pikiran yang mati dan tidak bisa terbang di angkasa sana. Terasa lama hidup di dunia bila kuhitung berulang-ulang dengan jemari kurus kering ini. Berkilauan cahaya matahari berbenturan dengan jiwaku yang enggan untuk berbuat apapun seolah hidup tak segan mati tak mau. Meneropong dunia di luar angkasa mrengusung cita-cita demi tercapainya harapan namun akhirnya tak pernah kuhiraukan lagi cita-cita itu karena semuanya sudah lebur dengan angan-angan yang berterbangan di awan.
 Harus ku akui ini yang termalas dal am gebrakan semangatku. Waktu remaja ku pernah bilang kalau nanti bisa lebih segar bugar dari hari ini karena masih banyak harapan yang terlewatkan, cita-cita yang belum menjadi nyata, dan segudang angan yang belum dirasakan, tapi itu hanya persoalan waktu yang belum terbukakan lembaran hidup di masa depan. Walau hanya berjalan di gurun pasir pada teriknya matahari hal itu tetap tidak membuat semangatku membara dan membakar jiwaku, malah diriku terasa dingin tak bergairah lagi menghadapi dunia ini. Nilai rapor hidupku begitu tidak berarti lagi kendatipun masih ada waktu untuk memperbikinya segera cepat lambat rintihan suara dalam dada ini terus berkata aku menyerah.

Aku akan bersanding dengan sang raja golek demi menghibur diri ini yang lemah dan tak karuan. Akan ku persembahkan alur tali jalan hidupku ini kepada sang waktu yang akan menghabiskan sisa-sisa harapan yang sia-sia. Membuang kegelisahan dalam jiwaku bukan lagi hal yang sepatutnya aku lakukan saat ini, kecuali ada kecerahan yang dating menghampiri sehingga bisa masuk ke dalam pikiranku untuk mengganti suasana hati yang frustasi. Aku ingin cerita hidup ini bersambung kembali seperti kisah peri awan biru yang selalu bermanja diri di kursi dengan ditambah pelukan pangeran tampan yang menghangatkan dirinya.