Tak
Karuan, Tak Ceria, Sia-sia
Helai
nafas ini terasa pengap nan terengah-engah ingin kembali mendapatkan kesegaran
menghirup udara di alam bebas. Terkadang ku membenci kemelutan pikiran yang
mati dan tidak bisa terbang di angkasa sana. Terasa lama hidup di dunia bila
kuhitung berulang-ulang dengan jemari kurus kering ini. Berkilauan cahaya
matahari berbenturan dengan jiwaku yang enggan untuk berbuat apapun seolah
hidup tak segan mati tak mau. Meneropong dunia di luar angkasa mrengusung
cita-cita demi tercapainya harapan namun akhirnya tak pernah kuhiraukan lagi
cita-cita itu karena semuanya sudah lebur dengan angan-angan yang berterbangan
di awan.
Harus ku akui ini yang termalas dal am
gebrakan semangatku. Waktu remaja ku pernah bilang kalau nanti bisa lebih segar
bugar dari hari ini karena masih banyak harapan yang terlewatkan, cita-cita
yang belum menjadi nyata, dan segudang angan yang belum dirasakan, tapi itu
hanya persoalan waktu yang belum terbukakan lembaran hidup di masa depan. Walau
hanya berjalan di gurun pasir pada teriknya matahari hal itu tetap tidak
membuat semangatku membara dan membakar jiwaku, malah diriku terasa dingin tak
bergairah lagi menghadapi dunia ini. Nilai rapor hidupku begitu tidak berarti
lagi kendatipun masih ada waktu untuk memperbikinya segera cepat lambat
rintihan suara dalam dada ini terus berkata aku menyerah.
Aku
akan bersanding dengan sang raja golek demi menghibur diri ini yang lemah dan
tak karuan. Akan ku persembahkan alur tali jalan hidupku ini kepada sang waktu
yang akan menghabiskan sisa-sisa harapan yang sia-sia. Membuang kegelisahan
dalam jiwaku bukan lagi hal yang sepatutnya aku lakukan saat ini, kecuali ada
kecerahan yang dating menghampiri sehingga bisa masuk ke dalam pikiranku untuk
mengganti suasana hati yang frustasi. Aku ingin cerita hidup ini bersambung
kembali seperti kisah peri awan biru yang selalu bermanja diri di kursi dengan
ditambah pelukan pangeran tampan yang menghangatkan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar