Kamis, 18 September 2014

Tak Karuan, Tak Ceria, Sia-sia
Helai nafas ini terasa pengap nan terengah-engah ingin kembali mendapatkan kesegaran menghirup udara di alam bebas. Terkadang ku membenci kemelutan pikiran yang mati dan tidak bisa terbang di angkasa sana. Terasa lama hidup di dunia bila kuhitung berulang-ulang dengan jemari kurus kering ini. Berkilauan cahaya matahari berbenturan dengan jiwaku yang enggan untuk berbuat apapun seolah hidup tak segan mati tak mau. Meneropong dunia di luar angkasa mrengusung cita-cita demi tercapainya harapan namun akhirnya tak pernah kuhiraukan lagi cita-cita itu karena semuanya sudah lebur dengan angan-angan yang berterbangan di awan.
 Harus ku akui ini yang termalas dal am gebrakan semangatku. Waktu remaja ku pernah bilang kalau nanti bisa lebih segar bugar dari hari ini karena masih banyak harapan yang terlewatkan, cita-cita yang belum menjadi nyata, dan segudang angan yang belum dirasakan, tapi itu hanya persoalan waktu yang belum terbukakan lembaran hidup di masa depan. Walau hanya berjalan di gurun pasir pada teriknya matahari hal itu tetap tidak membuat semangatku membara dan membakar jiwaku, malah diriku terasa dingin tak bergairah lagi menghadapi dunia ini. Nilai rapor hidupku begitu tidak berarti lagi kendatipun masih ada waktu untuk memperbikinya segera cepat lambat rintihan suara dalam dada ini terus berkata aku menyerah.

Aku akan bersanding dengan sang raja golek demi menghibur diri ini yang lemah dan tak karuan. Akan ku persembahkan alur tali jalan hidupku ini kepada sang waktu yang akan menghabiskan sisa-sisa harapan yang sia-sia. Membuang kegelisahan dalam jiwaku bukan lagi hal yang sepatutnya aku lakukan saat ini, kecuali ada kecerahan yang dating menghampiri sehingga bisa masuk ke dalam pikiranku untuk mengganti suasana hati yang frustasi. Aku ingin cerita hidup ini bersambung kembali seperti kisah peri awan biru yang selalu bermanja diri di kursi dengan ditambah pelukan pangeran tampan yang menghangatkan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar