Kamis, 16 Oktober 2014

Bismillaahirrahmaanirraahiim.
1.      Pekerjaan yang akan dipilih?
2.      Nilai-nilai apa yang akan dijunjung?

Pekerjaan identik dengan aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, bedanya kalau pekerjaan sifatnya cenderung menetap dan akan terus dilakukan setiap hari secara rutin. Dalam menentukan bidang pekerjaan biasanya setiap orang memilih sesuai dengan minat dan kemampuannya, atau bias juga dibilang relevan dengan minat dan bakat yang diinginkan individu masing-masing. Sejalan dengan penjelasan di atas, tidak beda halnya dalam memilih bidang pekerjaan untuk masa depan saya pribadi pun tentunya yang lebih disukai dan menjadi passion sendiri. Berbicara mengenai bakat, minat, kemampuan, atau bahkan keinginan pasti tidak lepas dari segala aktivitas yang dirintis dan dimulai oleh setiap individu pada sekarang ini, misalnya seseorang dengan minatnya sistem audio visual serta punya bakat menggambar, maka bisa diprediksikan kalau dia akan memilih pekerjaan bidang desain grafis atau animasi. Sebagaimana orang pada umumnya hal ini berlaku juga pada diri saya, matematika yang diminati sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) meskipun yang dipelajari sekarang adalah ilmu psikologi tapi hal itu tidak menjadi hambatan keinginan pribadi, sehingga saya pun memilih peminatan yang berhubungan dengan bidang matematika yakni “PSIKOMETRI” dengan alasan psikometri lebih sesuai dengan tujuan untuk meraih prestasi tinggi dan pencapaian karier lebih optimal lagi. “AMIIN ALLAHUMMA AMIIN”
            Nilai-nilai yang akan dijunjung adalah integritas dan altruisme (empati, simpati, dan  membantu, serta menolong orang lain), selain nilai ini sudah jarang ditemukan lagi juga mulai pudar bahkan hampir punah di kalangan masyarakat Indonesia itu sendiri. Budaya yang sangat beragam, nilai-nilai, norma-norma, dan kearifan lokal masih menjadi identitas diri bangsa yang punya harkat dan martabat tinggi sejatinya Indonesia masih mempertahankan nilai-nilai luhur, budaya gotong royong, sikap ramah, dan berbudi pekerti agung pada semua elemen masyarakatnya. Segala bentuk upaya dan program sebenarnya sudah sangat gencar dan serius untuk terus diberikan dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Produk budaya dengan nilai-nilai serta normanya yang amat sangat luhur nan agung seyogyanya mampu menciptakan individu-individu yang unggul, namun ternyata keadaannya berbalik sehingga terjadi diskrepansi antara harapan dengan kenyataan yang ada. Akan lebih buruk lagi jika kondisi ini masih tetap berlanjut, pribahasa mengatakan ibarat air di atas daun talas yang dengan seketika jatuh ke permukuaan tanpa tersisa sedikit pun, begitulah keadaan Indonesia yang semakin terkikis dan terus menerus tergerus nilai budayanya seolah-olah tidak bisa diharapkan lagi identitas masyarakat yang memperteguh nilai integritas dan altruisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar