Bismillaahirrahmaanirraahiim.
1.
Pekerjaan
yang akan dipilih?
2.
Nilai-nilai
apa yang akan dijunjung?
Pekerjaan
identik dengan aktivitas yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, bedanya
kalau pekerjaan sifatnya cenderung menetap dan akan terus dilakukan setiap hari
secara rutin. Dalam menentukan bidang pekerjaan biasanya setiap orang memilih sesuai
dengan minat dan kemampuannya, atau bias juga dibilang relevan dengan minat dan
bakat yang diinginkan individu masing-masing. Sejalan dengan penjelasan di atas,
tidak beda halnya dalam memilih bidang pekerjaan untuk masa depan saya pribadi
pun tentunya yang lebih disukai dan menjadi passion sendiri. Berbicara mengenai
bakat, minat, kemampuan, atau bahkan keinginan pasti tidak lepas dari segala
aktivitas yang dirintis dan dimulai oleh setiap individu pada sekarang ini, misalnya
seseorang dengan minatnya sistem audio visual serta punya bakat menggambar, maka
bisa diprediksikan kalau dia akan memilih pekerjaan bidang desain grafis atau
animasi. Sebagaimana orang pada umumnya hal ini berlaku juga pada diri saya, matematika
yang diminati sejak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA)
meskipun yang dipelajari sekarang adalah ilmu psikologi tapi hal itu tidak menjadi
hambatan keinginan pribadi, sehingga saya pun memilih peminatan yang
berhubungan dengan bidang matematika yakni “PSIKOMETRI” dengan alasan
psikometri lebih sesuai dengan tujuan untuk meraih prestasi tinggi dan
pencapaian karier lebih optimal lagi. “AMIIN ALLAHUMMA AMIIN”
Nilai-nilai yang akan dijunjung
adalah integritas dan altruisme
(empati, simpati, dan membantu, serta
menolong orang lain), selain nilai ini sudah jarang ditemukan lagi juga mulai
pudar bahkan hampir punah di kalangan masyarakat Indonesia itu sendiri. Budaya
yang sangat beragam, nilai-nilai, norma-norma, dan kearifan lokal masih menjadi
identitas diri bangsa yang punya harkat dan martabat tinggi sejatinya Indonesia
masih mempertahankan nilai-nilai luhur, budaya gotong royong, sikap ramah, dan
berbudi pekerti agung pada semua elemen masyarakatnya. Segala bentuk upaya dan
program sebenarnya sudah sangat gencar dan serius untuk terus diberikan dan
diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Produk budaya
dengan nilai-nilai serta normanya yang amat sangat luhur nan agung seyogyanya
mampu menciptakan individu-individu yang unggul, namun ternyata keadaannya berbalik
sehingga terjadi diskrepansi antara harapan dengan kenyataan yang ada. Akan
lebih buruk lagi jika kondisi ini masih tetap berlanjut, pribahasa mengatakan ibarat
air di atas daun talas yang dengan seketika jatuh ke permukuaan tanpa tersisa
sedikit pun, begitulah keadaan Indonesia yang semakin terkikis dan terus
menerus tergerus nilai budayanya seolah-olah tidak bisa diharapkan lagi
identitas masyarakat yang memperteguh nilai integritas dan altruisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar