Berlabuh
di Pangkuan Ibundaku Sayang
Derap langkah kaki berjalan sampai ketepian, menyusuri
ruang malam yang kelam, membongkar sebongkah suasana sunyi...menyelusup ke
lorong waktu yang suram kelam. Hidup bagaikan laksana bulan yang terang
benderang menyinari bumi dari angkasa jagad raya, tak sekedip pun enggan
meneranginya dikala malam datang. Gunung beserta hutannya menyemai udara sejuk
di pagi hari turut kita bisa rasakan kesegaran menghirup oksigen dengan bebas.
Kejelimetan hidup dan kemelutan zaman yang semakin tak karuan lagi membuat
makhluk di dunia seakan tak kuasa untuk menyanggupi perjalanan sisa hidup ini.
Terurai lantunan suara syair lagu yang dinyanyikan menambah kegelisahan dalam
hati “menyerah sudah pada kenyataan hidup di dunia” tambahan pula kegalauan
yang deres mendera jiwa dan pikiran ini.
Coba kita menoleh ke belakang sejenak, apakah yang
akan kita lihat...? Meniti hidup penuh gemuruh juga kerisauan bisa dilalui
dengan perlahan nan ikhlas apakah itu...? Begitulah seorang tua renta yang suadah
berani mengorbankan waktu, tenaga, dan kesenangannya bahkan tidak tanggung lagi
sampai nyawanya pun rela untuk dipertaruhkan demi melahirkan seorang makhluk
hidup padahal entah akan membawa kebaiakan ataupun tidak sebut saja bayi kecil
belum yang tahu apa-apa dan itulah kita pada awal terlahir di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar