Senin, 11 Agustus 2014



Berlabuh di Pangkuan Ibundaku Sayang
Derap langkah kaki berjalan sampai ketepian, menyusuri ruang malam yang kelam, membongkar sebongkah suasana sunyi...menyelusup ke lorong waktu yang suram kelam. Hidup bagaikan laksana bulan yang terang benderang menyinari bumi dari angkasa jagad raya, tak sekedip pun enggan meneranginya dikala malam datang. Gunung beserta hutannya menyemai udara sejuk di pagi hari turut kita bisa rasakan kesegaran menghirup oksigen dengan bebas. Kejelimetan hidup dan kemelutan zaman yang semakin tak karuan lagi membuat makhluk di dunia seakan tak kuasa untuk menyanggupi perjalanan sisa hidup ini. Terurai lantunan suara syair lagu yang dinyanyikan menambah kegelisahan dalam hati “menyerah sudah pada kenyataan hidup di dunia” tambahan pula kegalauan yang deres mendera jiwa dan pikiran ini.
Coba kita menoleh ke belakang sejenak, apakah yang akan kita lihat...? Meniti hidup penuh gemuruh juga kerisauan bisa dilalui dengan perlahan nan ikhlas apakah itu...? Begitulah seorang tua renta yang suadah berani mengorbankan waktu, tenaga, dan kesenangannya bahkan tidak tanggung lagi sampai nyawanya pun rela untuk dipertaruhkan demi melahirkan seorang makhluk hidup padahal entah akan membawa kebaiakan ataupun tidak sebut saja bayi kecil belum yang tahu apa-apa dan itulah kita pada awal terlahir di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar