Hikmah Bangun Pagi
Sebagai
seorang hamba Allah kita sepatutnya senantiasa selalu bersyukur kepada-Nya.
Meski berbagai alasan yang dihadapi tentu tidak seberapa besar korelasinya
dengan curahan karunia serta limpahan rahmat Allah kepada kita. Terkadang manusia
khilaf dengan tugas serta kewajibannya hidup di dunia, terlebih lagi jika
mengacuhkannya begitu saja seakan semuanya hanya dia yang menentukan, padahal
lambat laun waktu pun terus berjalan menyusuri zaman yang terus berganti. Dunia
hanyalah tempat persinggahan sementara, tapi rasanya sedikit sekali waktu kita
yang diluangkan untuk bermuhasabah (menghitung diri) tentang apa esensi hidup
ini karena semakin sibuknya dengan hal-hal duniawi, sehingga dibutakan dari
perkara akhirat. Siang berganti malam, hari demi hari menjadi bulan, dan bulan
terus bergilir menjadi tahun, itulah waktu kita di dunia yang terus berputar.
Namun ternyata miris sekali sebab yang ada dalam benak dan pikiran kita tidak
lagi memperbanyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak, dan sangat ironisnya
manusia hanya terfokus pada obsesi dunia semata.
Pada
dasarnya naluri manusia tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mungkin tanpa memerlukan
bantuan apapun dari pihak di luar dirinya. Sedari dulu hati manusia pun pasti
rindu dengan kehangatan, ketenangan, dan ketentraman serta kedamaian yang tidak
akan terwujud dengan sendirinya, melainkan ada menyertai dalam hidup kita yaitu
dzat Yang Maha Kuasa. Maka, anugerah apalagi yang kurang sehingga merasa
semuanya tidak cukup dan belum terpuaskan. Hikmah bangun pagi terasa indah dengan suasana
hari yang cerah lagi senyum sembringah, alasannya bernaung di bawah langit yang
bertaburan bintang sambil menyapa mega membuat suasana semakin ceria. Kerinduan
menghampiri hati sanubari yang sedang dilanda sepi tatkala jauh dari dekapan Yang
Maha Suci. Dikumandangkan adzan pertanda memasuki waktu untuk bermesraan dengan
Sang Illahi Robbi seraya terus memuji dan menunggu pagi sampai terbit matahari.
Senang dan riang menyertai diri ini terbang jauh ke awang-awang untuk memetik
bintang dengan maksud membawa hasil yang gemilang.
Lama
aku tidak bisa mengucap rasa syukur kepada-Mu Yaa Rabbul’Izzati yang setiap
malam gelisah dengan angan-angan dan harapan belum ku genggam, tak terkecuali
sepanjang siang pun selalu terbayang impian serta cita-cita yang masih
melayang. Alangkah bodoh dan angkuhnya hamba-Mu ini yang tak mampu memilikul
berat beban ego di pundak ini. Semoga hikmah bagun pagi saat ini bisa dirasakan
berkelanjutan, dan mohon ingatkanlah jikalau hati ini lalai dari perintah-Mu.
Ternyata batu ku sadar di dalam lamunan bahwa yang berarti di dunia bukanlah
permata, namun proses dari perjalanan untuk menjadi sebuah permata itu yang paling
berarti. Berguguran angan untuk mewujudkan impian bukan hal yang harus ditakutkan
lagi, tapi kehilangan semangat untuk terus berbuat kebaikan demi keselamatan
hidup di dunia dan akhirat itulah kerugian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar