Senin, 11 Agustus 2014



Hikmah Bangun Pagi
         Sebagai seorang hamba Allah kita sepatutnya senantiasa selalu bersyukur kepada-Nya. Meski berbagai alasan yang dihadapi tentu tidak seberapa besar korelasinya dengan curahan karunia serta limpahan rahmat Allah kepada kita. Terkadang manusia khilaf dengan tugas serta kewajibannya hidup di dunia, terlebih lagi jika mengacuhkannya begitu saja seakan semuanya hanya dia yang menentukan, padahal lambat laun waktu pun terus berjalan menyusuri zaman yang terus berganti. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, tapi rasanya sedikit sekali waktu kita yang diluangkan untuk bermuhasabah (menghitung diri) tentang apa esensi hidup ini karena semakin sibuknya dengan hal-hal duniawi, sehingga dibutakan dari perkara akhirat. Siang berganti malam, hari demi hari menjadi bulan, dan bulan terus bergilir menjadi tahun, itulah waktu kita di dunia yang terus berputar. Namun ternyata miris sekali sebab yang ada dalam benak dan pikiran kita tidak lagi memperbanyak amal baik untuk bekal di akhirat kelak, dan sangat ironisnya manusia hanya terfokus pada obsesi dunia semata.
            Pada dasarnya naluri manusia tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mungkin tanpa memerlukan bantuan apapun dari pihak di luar dirinya. Sedari dulu hati manusia pun pasti rindu dengan kehangatan, ketenangan, dan ketentraman serta kedamaian yang tidak akan terwujud dengan sendirinya, melainkan ada menyertai dalam hidup kita yaitu dzat Yang Maha Kuasa. Maka, anugerah apalagi yang kurang sehingga merasa semuanya tidak cukup dan belum terpuaskan.  Hikmah bangun pagi terasa indah dengan suasana hari yang cerah lagi senyum sembringah, alasannya bernaung di bawah langit yang bertaburan bintang sambil menyapa mega membuat suasana semakin ceria. Kerinduan menghampiri hati sanubari yang sedang dilanda sepi tatkala jauh dari dekapan Yang Maha Suci. Dikumandangkan adzan pertanda memasuki waktu untuk bermesraan dengan Sang Illahi Robbi seraya terus memuji dan menunggu pagi sampai terbit matahari. Senang dan riang menyertai diri ini terbang jauh ke awang-awang untuk memetik bintang dengan maksud membawa hasil yang gemilang.
         Lama aku tidak bisa mengucap rasa syukur kepada-Mu Yaa Rabbul’Izzati yang setiap malam gelisah dengan angan-angan dan harapan belum ku genggam, tak terkecuali sepanjang siang pun selalu terbayang impian serta cita-cita yang masih melayang. Alangkah bodoh dan angkuhnya hamba-Mu ini yang tak mampu memilikul berat beban ego di pundak ini. Semoga hikmah bagun pagi saat ini bisa dirasakan berkelanjutan, dan mohon ingatkanlah jikalau hati ini lalai dari perintah-Mu. Ternyata batu ku sadar di dalam lamunan bahwa yang berarti di dunia bukanlah permata, namun proses dari perjalanan untuk menjadi sebuah permata itu yang paling berarti. Berguguran angan untuk mewujudkan impian bukan hal yang harus ditakutkan lagi, tapi kehilangan semangat untuk terus berbuat kebaikan demi keselamatan hidup di dunia dan akhirat itulah kerugian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar